Saya juga tidak keberatan bermalam di tempat terpencil dengan fasilitas seadanya, berteman dengan pemukiman kumuh, berjalan di antara sampah TPA, atau menerjang air banjir setinggi pinggang ini karena tuntutan profesi saya.
Dan memang benar, saya lebih suka menggunakan celana panjang atau celana pendek daripada rok, sepatu keds atau flat shoes daripada highheels, dan lebih suka les bahasa asing yang terdengar seksi daripada berbaju seksi.
Bicara saya ceplas-ceplos, tidak berbasa-basi, sehingga pernah dicap tidak dibimbing roh kudus oleh seseorang yang akhirnya pun tidak setia pada roh kudus itu. Namun satu hal dibalik ceplas-ceplos itu, saya tidak munafik!
Saya lebih suka main basket, daripada belajar balet, dan lebih memilih instrumen drum daripada piano atau harpa. Begitupun koleksi lagu-lagu classic rock saya, yang hampir sama lengkapnya dengan lagu-lagu cinta yang saya simpan di hard disk laptop saya.
Tapi saya PUNYA perasaan!
Saya masih punya hati!
Dibalik rencana saya untuk mengejar cita-cita dalam karier dan pendidikan saya, masih ada terselip keinginan untuk memiliki seorang anak, bayi milik saya sendiri. Walau kini saya hanya bisa mencurahkan perasaan itu pada anak-anak milik orang lain, yang tak jarang menjadi sumber kesalahpahaman...
Dan semuanya saya simpan sendiri, mulai dari kebingungan saya, keresahan saya, sampai tidak berdayanya saya tiap kali mereka bertanya: apa kamu sudah telat? apa kamu sudah hamil? kapan kamu hamil? tahun depan hamil ya?
Please... Saya PUNYA perasaan.
Saya masih punya hati!
Dibalik kontroversi atas hobby saya, pekerjaan saya, dan segala sesuatunya yang tidak feminin,
saya masih seorang perempuan.
Yang kadang menangis, kadang sensitif, kadang terlalu melankolis, kadang emosional, dan tak jarang ambruk karena menahan perasaan...
namun untunglah, ada seorang lelaki yang cukup kuat di samping saya.
Yang bahunya cukup kuat untuk saya bersandar, dan yang hatinya cukup luas untuk saya berbagi keluh kesah, kekhawatiran, amarah, dan kesedihan...
terima kasih sayang.
